Simak, Kisah Dosen Gaib di Beberapa Kampus Ini!



RADARKAMPUS.COM, SemarangKisah Dosen Gaib di Beberapa Kampus, Kisah dosen gaib yang beredar di kalangan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta kini sedang ramai dibicarakan netizen. Mulai dari pembicaraan serius, hingga dijadikan guyonan. Ternyata, kisah yang mirip juga beredar di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Gegernya kisah ini dikalangan kampus di Semarang ini bermula ketika seseorang bernama Anggo mengunggah sebuah foto di akun Facebooknya. Pada postingannya itu, Anggo juga menyertakan screencapture dari percakapannya di grup WhatsApp diksi 2016. 


“Assoy banget nih UNNES Serem juga nihh kalo kejadian lagi," tulisnya pada postingan tersebut. Percakapan dalam grup tersebut berbahasa Jawa. Berikut ini arti dari percakapan tersebut, yang dilansir dari salah satu media lokal. 

“Iya, katanya dosen minta kuliah jam setengah 6, pas anak-anak berangkat ada dosen masuk. Pas udah masuk semua plus dosen, dosennya cuma diam saja, nggak ngomong sama sekali. Tiba-tiba ketua kelas disms dosen yang asli bilang kalau nggak jadi ada kuliah karena ada halangan. Ketuanya tentu saja kaget, setelah itu sama dosen aslinya ia disuruh lihat kakinya. Terus, ketua jatuhin bolpoinnya, eh ternyata melayang, nggak ada kakinya. Terus ketua menshare via grup line ‘Sekarang tolong keluar satu persatu dari yang paling belakang dan tanpa teriakan’, spontan anak-anak melakukannya. Pas yang paling terakhir ketuanya, tau-tau dosen gaibnya mendekat sambil bilang ‘kamu udah tau saya?’, ketuanya langsung menjerit. Akhirnya UAD selama 3 hari diliburkan.”


Selain itu, juga beredar foto sesosok pria tinggi yang berdiri di samping papan tulis. Nampaknya, foto tersebut diambil oleh salah satu mahasiswa kelas tersebut yang duduk di deretan kursi bagian belakang. Kisah dosen gaib di UAD ternyata juga terjadi di kampus ini. Namun, belum terbukti kebenarannya. (Bintang.com)


Website PGRI Diretas: Anak Sekarang Didikan Manja



RADARKAMPUS.COM, Jakarta Website PGRI Diretas: Anak Sekarang Didikan Manja, Hacker Indonesia kembali beraksi dengan melakukan kritik sosial pada kondisi pendidikan di Indonesia. Kali ini situs resmi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diretas oleh sekelompok Hacker.

Sebagaiman dilansir dalam news.linuxsec.org, Halaman depan situs yang biasanya menampilkan berita kegiatan yang berhubungan dengan guru berubah menjadi latar hitam dan kritikan terhadap buruknya sistem karena makin hari dinilai makin banyak kasus siswa yang melawan gurunya.

Peretas yang mengatasnamakan dirinya berasal dari Indoxploit Coders dan Jancok Security tersebut juga meninggalkan link berita tentang kasus anak SD yang melawan gurunya bahkan menghina gurunya dengan sebutan monyet.


Beberapa kritik yang disampaikan sebagai berikut:
INI ANAK GENERASI HAM?
ATAU EMANG GAPUNYA DIDIKAN?
 
KENAPA GADILAWAN SAJA? ANAK 99'AN, DI HAJAR GURU. LAPOR ORANG TUA MAKIN DIHAJAR.
KARENA EMANG ITU KESALAHAN KITA.
LAH ANAK JAMAN SEKARANG? DIDIKAN MANJA. DIKIT-DIKIT DI BAIKIN.
YAAH GINI LAH JADINYA, KURANG AJAR!!!
KITA ANAK 99'AN DIDIKAN KERAS, BUKAN KYK ANAK JAMAN SEKARANG.

Sampai berita ini diturunkan situs yang beralamat di pgri.or.id tersebut belum bisa diakses.

Berita diolah dari http://news.linuxsec.org/

Preman Bersenjata Serang Bazar Buku Mahasiswa UIT Makasar

Preman Bersenjata Serang Bazar Buku Mahasiswa UIT Makasar


RADARKAMPUS.COM, Makasar – Preman Bersenjata Serang Bazar Buku Mahasiswa UIT Makasar, Bazar yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia Timur (UIT) berlangsung ricuh, Minggu (23/10/2016) pukul 00.30 Wita.

Acara Bazar yang sementara digelarkan dilantai 2 Warung Kopi (Warkop) 27 Jl Sultan Alauddin tiba-tiba diserang oleh puluhan preman bersenjata anak panah.

Salah satu mahasiswa UIT mengaku, awalnya acara tersebut berjalan baik dan mau untuk ditutup karena sudah larut malam. Tapi, tiba-tiba ada orang dilantai satu lari naik kelantai dua.

"Disitu kami diserang pakai batu dari luar, ada mahasiswi yang teriak tolong tapi mereka tidak berhenti bahkan ada yang menyerang pakai busur," ujarnya sebagaimana dilansir dalam Tribunnews.com Minggu, (23/10/2016).

Bahkan, Salah satu mahasiswa ekonomi Universitas Indonesia Timur (UIT) ditikam dalam insiden penyerangan tersebut. Adalah Sudirman (21) mahasiswa FE UIT semester 5 alami luka tusukan benda tajah di diperut sebanyak dua kali. Yakni diperut sebelah kanan, rusuk kiri, dan juga satu tusukan dari pinggang.

Beruntung, pihak kepolisian dari Polsek Rappocini datang dan menghamburkan puluhan preman yang menyerang acara bazar mahasiswa itu.

Baca juga : Inilah Mahasiswa UNIMAL Aceh yang Dipolisikan Karena Kritik Dosen

Setelah itu, beberapa motor dihalaman parkir Warkop 27 itu dijatuhkan bahkan ada yang dampai dirusaki, kaca warkop 27 juga pecah akibat dilempar.

Inilah Mahasiswa UNIMAL Aceh yang Dipolisikan Karena Kritik Dosen



RADARKAMPUS.COM, AcehInilah Mahasiswa UNIMAL Aceh yang Dipolisikan Karena Kritik Dosen, Peribahasa “Mulutmu Harimaumu,” nampaknya adigium yang paling pas untuk diperhatikan oleh para pengguna sosial media.

Alih-alih melakukan kritik via media sosial kepada dosennya, mahasiswa yang bernama Nanda Feriana kini tengah menjadi perbincangan netizen. Pasalnya mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, Aceh Utara ini harus berurusan dengan hukum lantaran kritik yang ia sampaikan dilaporkan telah melakukan pencemaran nama baik. Tak hanya pencemaran nama baik bahkan Nanda juga harus terjerat kasus pelanggaran Undang-Undang ITE oleh dosennya sendiri.

Dwi adalah dosen yang melakukan pelaporan terhadap Nanda ke Polres Lhokseumawe. Kasus bermula dari sebuah surat terbuka yang berada didinding facebook milik terlapor. Surat berjudul ‘Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman’ yang sudah terlhat sejak 27 September 2016.

Surat tersebut juga tertuliskan nama dan identitas lengkap dari sang dosen. Tak hanya itu Nanda juga menyampaikan perasaan kecewanya terhadap dosen yang telah menggagalkan yudisiumnya.

Namun surat terbuka tersebut telah dihapus oleh Nanda dari wall Facebooknya. Nanda juga telah berusaha untuk meminta maaf terhadap dosen, akan tetapi Dwi justru tetap kukuh dengan pendiriannya untuk membawa kejalur hukum.

Baca juga : 2 Tahun Jokowi-JK, Mahasiswa Demo di Depan Istana

Di dinding (wall) akun Facebook Nanda Feriana, tersemat judul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman”  yang diunggah pada 27 September 2016. Konten pada unggahan itu dianggap Dwi, sang dosen, telah mencemarkan nama baik. Terkhusus, pada penyebutan dosen lulusan Jerman primitif.

“Dalam tulisan itu, saya dikatakan tidak beradab, primitif. Apakah perilakunya lebih bagus dari saya ? Lulusan Jerman di Unimal cuma dua orang. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Kalau sudah Ibu (penyebutan di status) lulusan Jerman itu, berarti cuma saya, tidak ada yang lain,” sebagaimana dilansir dalam www.tribun-medan.com, Kamis (20/10/2016).

Dengan kasus antara dosen dan mahasiswanya ini membuat netizen tertarik dan terus mengikuti perkembangan kasusnya. Kasus aksi lapor melapor ini juga tengah viral didunia maya kususnya dikalangan pengguna Facebook.

Tidak hanya pengguna sosial media saja yang angkat bicara akan kasus ini. Dukunganpun banyak ditunjukan kepada Nanda dengan munculnya gerakan #SaveNandaFeriana. Dukungan ini diberikan lantaran banyak pihak yang menyesalkan kebijakan dosen tersebut.


2 Tahun Jokowi-JK, Mahasiswa Demo di Depan Istana



RADARKAMPUS.COM, Jakarta2 Tahun Jokowi-JK, Mahasiswa Demo di Depan Istana, Memperingati dua pemeritahan Jokowi-JK, Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) menggelar aksi di depan Istana Negara, Kamis (28/10/2016). Aksi ini diikuti oleh 44 universitas se-Indonesia ini membuat lalu lintas dari Jalan Medan Merdeka Barat ke arah Harmoni mengalami kepadatan lalu lintas.

Aksi yang digelar dalam rangka mengkritisi pemerintahan Jokowi-JK yang genap berusia 2 tahun, dilaksanakan dengan beberapa tuntutan Pertama mendesak pemerintah untuk menindak tegas mafia kasus kebakaran hutan dan lahan. Kedua menolak reklamasi Teluk Benoa dan Teluk Jakarta.


Ketiga, mereka mendesak pemerintah untuk menolak tax amnesty yang dinilai tidak pro rakyat.
Keempat, mahasiswa meminta pemerintah Jokowi-JK untuk menolak perpanjangan izin ekspor konsentrat setelah Januari 2017 dan komitmen terhadap usaha hilirisasi minerba.



Terakhir, mereka menuntut untuk mencabut hukum kebiri dan meminta pemerintah menyelesaikan akar permasalahan kejahatan seksual pada perempuan dan anak.
Back To Top